Menurutnya, cuaca panas ini akan berubah saat memasuki musim kemarau. Ketika musim kemarau tidak akan terdapat awan yang menghalangi pelepasan panas matahari ke atmosfer.
“Saat kemarau tidak ada awan sehingga panas Matahari dari Bumi akan langsung dilepaskan ke atmosfer. Ketika siang memang cuaca panas, tapi kalau malam suhu akan turun,” terangnya.
Saat ini DIY tengah berada pada musim pancaroba atau peralihan musim penghujan ke musim kemarau. memperkirakan bahwa wilayah ini akan memasuki musim kemarau pada akhir April atau awal Mei 2019.
Meskipun fenomena cuaca panas akhir-akhir ini bukalah hal yang mengkhawatirkan, tetapi Emilya menekankan pentingnya upaya antisipasi untuk menekan dampak negatif yang ditimbulkan. Di antaranya dengan menambah luasan ruang terbuka hijau dan mengurangi produksi karbon.