Lukisan gunung yang gersang karya Klowor Waldiyono di Jogja Galery, Yogyakarta, 22 Desember 2019. IDN Times/Pito Agustin Rudiana
Berbeda dengan kebanyakan perupa yang melukis setelah mendapat wangsit. Sebaliknya, Klowor menjadikan melukis sebagai pekerjaan harian.
“(melukis) tiap hari, seperti ngantor, kerja. Itu harus. Tanpa disiplin gak bisa bikin karya sebanyak ini,” kata Klowor bersemangat.
Dia merasa tak terganggu dengan kehadiran teman, saudara, kolega yang datang saban hari silih berganti. Ngobrol ini itu, guyon bersama. Justru pertemuan itu bisa memantik ide untuk direspons di atas kanvas.
“Tamu pulang, saya nyekel (pegang) kanvas. (melukis) apapun itu,” kata Klowor yang menyediakan waktu saban Ahad untuk keluarga.
Ia pun tak mengelak rutinitas juga acap kali membuat dia jenuh dan stagnan. Bukan berhenti menunggu mood datang kembali. Namun Klowor langsung menerapkan solusi. Jika ia jenuh melukis di ataas kanvas berukuran jumbo, ia akan beralih ke kanvas-kanvas kecil. Sebaliknya, jika ia ingin meluapkan idenya di atas kanvas besar, ia akan menjadikan kanvas-kanvas kecilnya sebagai palet cat akriliknya.
“Pelototan (cat) di situ. Dan apapun kondisi palet itu, saya respons jadi karya,” kata Klowor.
Dan sesuntuk apapun, Klowor berusaha melukis dengan gembira. Lantaran ada energi positif yang bisa disalurkan dalam hasil karyanya. Seperti lukisan gunung batu yang dikelilingi bebatuan pula. Namun dalam lukisan yang menunjukkan kegersangan itu, Klowor bisa menyematkan serumpun bunga-bunga cantik warna merah muda yang tengah mekar di sudutnya.
“Dalam keterpurukan pasti ada celah keindahan,” kata Klowor.
Ia pun menyimpulkan. Berkarya bukan sekadar masalah kedisiplinan. Melainkan bagaimana menyikapi siklus berkarya dengan gembira. Mengingat menjadi pelukis sudah menjadi pilihan.
“Ide itu ada terus. Kalau menunggu ide, namanya keset (malas),” kata Klowor.