Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Gempa 2006: 57 detik yang Mencekam di Yogyakarta

ciptakarya.pu.go.id
ciptakarya.pu.go.id

Yogyakarta, IDN Times - Tanggal 27 Mei 2006 pukul 05.50. Sayudi masih tertidur pulas bersama anak laki-lakinya di kamar belakang. Sementara itu, sang istri sudah bangun lebih dulu karena mesti memasak di dapur.

Pagi itu, semuanya berjalan seperti biasa. Tapi, getaran yang kuat dirasakan Sayudi selang sembilan menit kemudian. Sadar terjadi gempa, ia langsung terjaga, membangunkan putranya, lalu lari ke luar rumah.

1. Banyak rumah rata dengan tanah

ciptakarya.pu.go.id/
ciptakarya.pu.go.id/

Warga Dusun Potrobayan, Desa Srihardono, Bantul itu akhirnya berhasil menyelamatkan diri. Tapi, ia mendapati rumahnya mengalami kerusakan cukup berat.

“Rumah saya tidak rata dengan tanah namun bagian depan, belakang, dan samping roboh karena gempa,” katanya.

Sayudi lantas teringat kedua orangtuanya yang tinggal sendiri di rumah tak jauh dari tempat tinggalnya. Usai memastikan semua keluarganya selamat, dia pun langsung melihat keadaan ibu dan ayahnya.

“Syukur keduanya tidak apa-apa. Mereka selamat,” terangnya.

Sebagai Kepala Dusun Potrobayan, Sayudi lalu berkeliling dukuh buat melihat keadaan warga beserta tempat tinggalnya setelah gempa.

“Saat itu ada 200 KK di dusun ini. Sebagian besar rumahnya rusak berat, rata dengan tanah,” ujarnya.

2. Isu tsunami sempat merebak

Pexels.com/GEORGE DESIPRIS
Pexels.com/GEORGE DESIPRIS

Karena banyak rumah yang roboh, Sayudi kemudian membuat tempat pengungsian di Kantor Kebun Balai Pengembangan Perbenihan dan Percontohan Kehutanan dan Perkebunan (BP3KP) yang terletak di pintu masuk dusun. Warga yang sakit juga dibawa ke sana agar bisa segera diantar ke rumah sakit.

Selesai dengan pendirian lokasi pengungsian, Sayudi lalu mencari dan menggali tanah untuk makam korban jiwa bersama warga lain. Ada 13 orang yang meninggal di sana karena gempa bumi.

Selain panik karena gempa, Sayudi melihat sebagian orang di Dusun Potrobayan juga khawatir bakal ada tsunami. Mereka lalu memutuskan untuk pergi ke daerah lebih tinggi di wilayah utara Yogyakarta.

Desas-desus tersebut didengar setelah tiga jam gempa terjadi. Tapi, Sayudi tidak pergi. Menurutnya, jika tsunami muncul maka aliran air di Sungai Opak di sebelah dukuh pasti berubah. Kala itu ia tidak melihat ada perubahan apapun.

3. Terjadi kemacetan di Jalan Kaliurang

Instagram.com/dhian_hardjodisastro
Instagram.com/dhian_hardjodisastro

Di lereng Gunung Merapi, Haryono, warga Desa Pakembinangun, Sleman, juga merasakan gempa yang sama.

Setelah azan subuh, pria berusia 55 tahun tersebut bangun lebih dulu untuk memasak air buat keperluan minum dan mandi. Udara dingin khas dataran tinggi membuat kedua anaknya enggan mandi tanpa air panas jika hendak ke sekolah. Selesai merebus air, Haryono lantas membersihkan halaman rumah sementara istrinya yang juga sudah terjaga sibuk di dapur.

“Gempa terjadi saat saya sedang di luar, dekat pintu rumah dan sedang menyapu halaman. Saya lalu membangunkan kedua anak saya. Semua langsung keluar begitu gempa terjadi,” katanya.

Haryono mendapati rumahnya retak di satu-dua tempat. Tapi, ia bersyukur tidak ada kerusakan yang parah. Situasi di tempat tinggal Haryono usai gempa pun terkendali.

Tapi, suasana jalan di depan rumah pria bertubuh kurus itu ramai selang beberapa jam kemudian. Banyak warga berbondong-bondong menuju ke arah Kaliurang menggunakan mobil atau motor. Di arah sebaliknya, masyarakat yang tinggal di kawasan wisata Kaliurang justru hendak turun ke arah kota.

4. Mengira gempa karena Gunung Merapi

IDN Times/Istimewa
IDN Times/Istimewa

Kemacetan lalu terjadi di Jalan Kaliurang km 19,5. Haryono yang terpancing oleh suara ramai di jalan lantas ke luar rumah. Ia melihat banyak orang memarkirkan kendaraan di depan swalayan tak jauh dari tempat tinggalnya.

“Saya kemudian ke sana. Dari sana saya dapat kabar kalau orang takut akan ada tsunami makanya pada mau ke atas. Sementara warga yang tinggal di sekitar daerah Kaliurang mengira gempa terjadi karena Gunung Merapi mau meletus makanya pada ke bawah,” ujarnya.

Selama berada di depan swalayan, Haryono melihat orang kebingungan mencari keluarganya karena mereka tidak bersama-sama saat menyelamatkan diri. Ia juga menyaksikan ada ibu yang menangis di tepi jalan bersama anaknya.

Suasana seperti di atas bertahan hingga pukul 11 siang. Selepas itu, mereka membubarkan diri dan kemacetan perlahan terurai. Haryono pada hari itu juga kembali menjalani aktivitas seperti biasa. Ia menuju ke arah Jalan Kaliurang bawah untuk bekerja hingga sore hari. 

5. Gempa bumi dengan kekuatan 5,9 skala Richter mengguncang Yogyakarta

ciptakarya.pu.go.id/
ciptakarya.pu.go.id/

Berdasarkan keterangan Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul Dwi Daryanto, gempa berkekuatan 5.9 skala Richter melanda Yogyakarta pukul 05.59 pada tanggal 27 Mei 2006.

Pusat gempa, menurut Tim Geologi UPN “Veteran” Yogyakarta, ada di wilayan Potrobayan, Desa Srihardono, Kecamatan Pundong, Bantul pada koordinat 7,962”LS dan 110,458”BT. Gempa tersebut berlangsung selama 57 detik dan dirasakan hingga daerah lain. Seminggu setelahnya, warga merasakan gempa susulan dengan kekuatan lebih kecil lima sampai enam kali sehari.

Dwi Daryanto mengatakan saat itu BPBD Bantul belum terbentuk. Sebagai gantinya, tim bernama satuan pelaksana bertugas menangani bencana di level kabupaten dengan Bupati Bantul sebagai komandonya.

“Waktu itu justru yang kami siapkan terkait antisipasi Gunung Merapi yang sedang aktif-aktifnya mengeluarkan awan panas. Terkait gempa kami sama sekali tidak ada persiapan. Tidak ada antisipasi,” katanya.

6. Ribuan korban meninggal, ratusan ribu bangunan rusak

ciptakarya.pu.go.id/
ciptakarya.pu.go.id/

Makanya, Dwi Daryanto mengira gempa tanggal 27 Mei 2006 itu adalah gempa yang disebabkan oleh Gunung Merapi. Apalagi kerusakan bangunan di sekitar lingkungan tempat ia tinggal tidak parah.

Tapi, pikirannya berubah ketika ia melihat banyak warga yang terluka saat dirinya mengantarkan anaknya ke sekolah. Dwi Daryanto lantas memutuskan kembali lagi ke rumah kemudian segera menuju ke rumah dinas Bupati.

“Ternyata di rumah sakit sudah sedemikian banyak korban meninggal dan sakit. Di sana overload. Karena memang tidak dipersiapkan sebelumnya,” ujarnya.

Dwi Daryanto mengatakan gempa bumi Yogyakarta pada 27 Mei 2006 menyebabkan lebih dari 4.000 orang meninggal dunia. Selain itu, jumlah bangunan yang rusak ringan, sedang, hingga berat tak kurang dari 150 ribu hanya dalam waktu 57 detik. 

7. Tak mampu redam isu tsunami

ciptakarya.pu.go.id/
ciptakarya.pu.go.id/

Selain perkara pengurangan resiko bencana, pemerintah daerah kala itu gagal memberikan pemahaman pada warga saat isu tsunami merebak. Desas-desus tersebut muncul tiga jam setelah gempa terjadi. Padahal, Dwi Daryanti mengatakan bencana itu muncul paling lama satu jam dari waktu gempa berlangsung.

 “Kalau waktu itu kami paham tsunami paling lama satu jam setelah kejadian gempa saya kira masyarakat tidak panik. Waktu itu kita lihat di media televisi kan kejadian Aceh jadi warga takut sehingga menjadi agak kacau,” tuturnya.

8. Menjadi pelajaran berharga

IDN Times/Nindias Khalika
IDN Times/Nindias Khalika

Pemerintah daerah, di sisi lain, juga sempat lumpuh selama dua hari. Hal ini dikarenakan para pegawainya juga menjadi korban bencana.

Mereka mesti mengurusi keluarganya terlebih dahulu sehingga aktivitas pemerintah daerah baru kembali normal di hari ketiga. Bantuan mulai terdistribusi ke masyarakat dan perintah dari Bupati segera dieksekusi.

Pengalaman gempa bumi tahun 2006, menurut Dwi Daryanto, akhirnya menjadi pembelajaran berharga tak terkecuali bagi pemerintah daerah. Dari kejadian itu, publik menjadi mengerti bahwa Bantul menjadi daerah yang memiliki potensi ancaman bencana gempa bumi tinggi. Wilayah tersebut juga rentan terkena tsunami karena berada dekat dengan pantai selatan.

Gempa bumi 2006 lantas menjadi peristiwa yang diperingati masyarakat Yogyakarta tiap tahun meski kejadiannya telah berlangsung 13 tahun lalu.

IDN Times
IDN Times
Share
Topics
Editorial Team
Nindias Khalika
EditorNindias Khalika
Follow Us

Latest News Jogja

See More

Harga mitsubishi lancer evolotion IX

09 Jul 2025, 03:00 WIBNews

Mobil Wistha

11 Apr 2022, 14:27 WIBNews